close

Artikel Dailysocial Tentang Situs Jual Beli Jualo.com

Pedro, COO Jualo.com

Dailysocial berbincang dengan COO Jualo.com, Pedro Principe, tentang kiatnya menghadapi pasar marketplace di Indonesia. Hal ini terjadi ketika Jualo.com berkunjung ke kantor dailysocial. Berikut artikel lengkapnya.

===

Dailysocial.co.id — Belum lagi dalam pasar marketplace online, pemain yang bermain dalam segmen ini terbilang sudah cukup padat di Indonesia. Sudah dipastikan, strategi “bakar uang” menjadi hal yang lumrah bagi para founder untuk melakukannya.

Dalam satu tahun belakangan, layanan marketplace C2C Jualo mendapat dua kali pendanaan dari investor dengan nilai yang tidak disebutkan. Dari hajatan ini, nilai valuasi Jualo memang tidak sebesar kompetitor langsungnya, semisal OLX. Toh dari segi umur, Jualo masih seumur “bayi”.

Dalam penerapan strategi investasinya, pihak Jualo mengaku lebih memilih untuk bersikap moderat. Artinya setiap uang yang hendak dikucurkan harus sesuai dengan kebutuhan perusahaan. COO Jualo Joao Pedro Principe mengungkapkan dana yang didapat ini sebagian dipergunakan untuk merekrut talenta di bagian marketing dan development. Terhitung, kini tim Jualo sebanyak 32 orang.

Menurutnya, saat ini terjadi pergeseran tolak ukur dalam melihat kesuksesan perusahaan startup. Kebanyakan melihat berapa besar merchant yang berhasil diakuisisi, berapa banyak jumlah pengguna, berapa besar valuasi perusahaan, dan lainnya.

Permasalahan ini berakibat saat uang sudah mulai menipis, perusahaan akan mencari cara bagaimana bisa mendapatkan pemasukan. Hingga akhirnya, konsumen sebagai pihak terakhir yang bakal dikenai fee. Menurutnya, hal ini yang tidak bisa dilakukan. Pasalnya, di masa mendatang tidak menutup kemungkinan pemain serupa akan terus bermunculan.

“Di Indonesia tidak bisa menerapkan fee ke konsumen saat uang dari investor sudah habis. Pasalnya, karakter orang Indonesia adalah menyukai sesuatu yang gratis. Bila sudah terjadi seperti ini, perlu strategi monetisasi yang berbeda,” ujar Pedro kepada DailySocial, Senin (24/10).

Pedro menyebutkan pihaknya akan menerapkan monetisasi di luar ekosistem bisnis utamanya. Dia mengaku, pihaknya bakal menyiapkan delapan produk yang akan menjadi lahan perusahaan dalam monetisasi.

“Kami belum bisa sebutkan bagaimana cara kami memonetisasi pengguna. Namun bisa dipastikan, kami akan charge di luar ekosistem marketplace demi mencegah pengguna beralih ke tempat lain.”

Redesign aplikasi

Di sisi lain, untuk pengembangan Jualo, Pedro menyebutkan pihaknya menargetkan untuk melakukan redesign aplikasi untuk mendorong penggunanya beralih ke aplikasi smartphone. Secara persentase jumlah pengguna yang mengakses lewat mobile web jumlahnya mencapai 70%, aplikasi 10%, dan desktop 20%.

Diperkirakan Januari mendatang, versi terbaru aplikasi Jualo akan segera terbit. Sementara ini, aplikasi Jualo baru tersedia untuk pengguna Android. “Nantinya akan ada banyak pengembangan aplikasi yang lebih memudahkan pengguna saat mengakses Jualo.”

Dalam jangka waktu panjang, Jualo ingin memposisikan diri sebagai sebuah marketplace yang memiliki layanan lengkap seperti apa yang sudah dicapai WeChat di Tiongkok yang memiliki layanan messaging, online shop, dan lainnya dalam satu aplikasi.

“Kami lihat WeChat adalah satu aplikasi yang mampu menampung banyak aplikasi di dalamnya. Ini sangat memudahkan pengguna agar tidak terlalu banyak meng-install aplikasi dalam smartphone-nya. Arahnya, kami ingin Jualo seperti itu ke depannya,” pungkas dia.

Secara total, jumlah pengguna terdaftar di Jualo saat ini mencapai 1 juta orang yang kebanyakan berlokasi di Jakarta, menyusul konsumen di Surabaya, Bandung, dan daerah lainnya.

 

Label: , , , ,

Story Page
Facebook
Google+
Instagram